Trailing Stop vs Stop Loss : Apa dan Mengapa Harus Dipahami?
Trailing Stop vs Stop Loss adalah dua tools manajemen risiko yang sangat penting untuk trader, baik di forex maupun saham. Keduanya sama-sama dirancang untuk melindungi modal, tetapi cara kerja dan fungsinya berbeda. Trader profesional biasanya tidak memilih salah satu, melainkan mengombinasikan keduanya sesuai kondisi market dan gaya trading.
Dengan memahami perbedaan, kelebihan, dan cara menggunakan Trailing Stop vs Stop Loss, kalian bisa:
- Membatasi kerugian secara terukur
- Mengamankan profit yang sudah berjalan
- Mengurangi keputusan emosional saat market bergerak cepat
Artikel ini akan membahas definisi, contoh praktis, kapan digunakan, hingga tips teknis (termasuk penggunaan ATR) agar kalian bisa menerapkannya dalam strategi trading sehari-hari.
Apa Itu Stop Loss?
Stop loss adalah perintah otomatis untuk menutup posisi ketika harga menyentuh level tertentu yang sudah kalian tentukan sejak awal. Tujuannya sederhana: membatasi kerugian agar tidak melebar ketika market bergerak berlawanan dengan posisi kalian.
Contoh Stop Loss di Forex
- Kalian membuka posisi buy EUR/USD di 1.1000
- Kalian pasang stop loss di 1.0950
- Jika harga turun ke 1.0950, posisi otomatis tertutup dengan kerugian 50 pips
Contoh Stop Loss di Saham
- Kalian membeli saham Apple (AAPL) di harga $180
- Kalian pasang stop loss di $170
- Jika harga turun ke $170, sistem otomatis menjual saham untuk membatasi kerugian sekitar $10 per saham
Ciri utama stop loss :
- Bersifat statis (tetap di satu level, tidak bergerak mengikuti harga)
- Membantu kalian menentukan batas risiko yang pasti
- Cocok untuk trader yang tidak ingin memantau chart terus menerus, tetapi tetap ingin disiplin dengan batas rugi
Apa Itu Trailing Stop?
Trailing stop bekerja mirip dengan stop loss, tetapi bersifat dinamis. Level stop-nya akan mengikuti pergerakan harga ketika posisi kalian sedang untung, dengan jarak tertentu yang sudah kalian tentukan (dalam pip atau persentase).
Ketika harga bergerak sesuai arah yang kalian prediksi, trailing stop akan ikut naik (untuk posisi buy) atau ikut turun (untuk posisi sell). Namun ketika harga berbalik arah, trailing stop berhenti bergerak dan akan mengeksekusi posisi jika tersentuh.
Contoh Trailing Stop di Forex (dalam pips)
- Kalian membuka posisi buy EUR/USD di 1.1000
- Kalian pasang trailing stop 50 pips
- Saat harga naik ke 1.1050, stop otomatis naik ke 1.1000
- Saat harga lanjut naik ke 1.1100, stop ikut naik ke 1.1050
- Jika kemudian harga turun dan menyentuh 1.1050, posisi tertutup dengan profit 50 pips yang sudah “terkunci”
Contoh Trailing Stop di Saham (dalam persentase)
- Kalian membeli saham NVIDIA (NVDA) di $400
- Kalian pasang trailing stop 5%
- Saat harga naik ke $420, trailing stop naik ke sekitar $399
- Selama harga terus naik, trailing stop akan mengikuti dengan jarak 5% dari harga tertinggi
- Ketika harga berbalik dan menyentuh level trailing stop, posisi otomatis tertutup dan profit yang sudah terbentuk tetap kalian amankan
Ciri utama trailing stop :
- Bersifat dinamis (level stop bergerak mengikuti tren harga)
- Tetap melindungi dari kerugian, sekaligus mengunci profit berjalan
- Membantu kalian bertahan lebih lama di tren yang kuat tanpa harus menebak titik keluar secara manual
Perbedaan Utama Trailing Stop vs Stop Loss
Berikut ringkasan perbedaan Trailing Stop vs Stop Loss :
| Aspek | Stop Loss | Trailing Stop |
|---|---|---|
| Sifat | Statis (tetap di satu level) | Dinamis (bergerak mengikuti harga) |
| Tujuan utama | Membatasi kerugian | Membatasi kerugian dan mengamankan profit |
| Cara penyesuaian | Tidak berubah kecuali diubah manual | Menyesuaikan otomatis sesuai pergerakan harga |
| Kondisi ideal | Market sideways atau target jelas & fixed | Market trending kuat dan ingin “ride the trend” |
| Risiko utama | Bisa tertinggal saat harga berbalik tajam | Bisa kena stop terlalu cepat saat volatilitas sangat tinggi |
Memahami tabel di atas membantu kalian memilih alat yang tepat sesuai kondisi market dan rencana trading.
Kapan Menggunakan Stop Loss, Kapan Menggunakan Trailing Stop?
Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua trader. Namun, berikut panduan praktis :
Lebih Cocok Menggunakan Stop Loss Jika :
- Market cenderung sideways, tanpa tren yang jelas
- Kalian melakukan scalping atau day trading dengan target profit relatif kecil
- Kalian ingin batas risiko yang fix dan tidak ingin level stop terus berubah
- Posisi cenderung berbasis analisis level tertentu (support/resistance, struktur harga spesifik) dan kalian menerima risiko sampai level tersebut
Lebih Cocok Menggunakan Trailing Stop Jika :
- Market sedang dalam tren kuat (uptrend atau downtrend)
- Kalian ingin mengikuti tren selama mungkin sambil tetap mengamankan profit
- Kalian tidak bisa memantau chart sepanjang waktu
- Strategi kalian berfokus pada trend following dengan potensi profit yang lebih panjang
Dalam praktik profesional, banyak trader menggunakan stop loss awal, lalu mengubahnya menjadi trailing stop ketika posisi mulai masuk area profit. Dengan begitu, risiko awal tetap terkendali, dan profit yang terbentuk bisa dilindungi.
Apakah Trailing Stop 5% Sudah Ideal?
Pertanyaan seperti “Trailing stop 5% sudah pas belum?” sering muncul. Jawabannya tergantung pada :
- Gaya trading (scalper, day trader, swing trader, position trader)
- Volatilitas instrumen (misalnya GBP/JPY lebih liar dibanding EUR/USD; Tesla lebih volatil dibanding Coca-Cola)
- Timeframe yang digunakan
Untuk Trader Jangka Pendek / Day Trader
Untuk trading intraday yang targetnya tipis, trailing stop 5% di saham atau puluhan pips di forex bisa terlalu lebar. Pergerakan intraday sering cepat dan bolak-balik. Jika stop terlalu longgar, posisi menjadi kurang efisien dan risk-to-reward bisa memburuk.
Untuk Swing Trader
Untuk swing trading, trailing stop 5%–10% di saham atau puluhan hingga ratusan pips di forex masih bisa masuk akal, karena :
- Target profit biasanya lebih panjang
- Kalian butuh ruang gerak agar tidak mudah kena stop hanya karena fluktuasi kecil
Sesuaikan dengan Volatilitas : Gunakan ATR
Pendekatan yang lebih objektif adalah menggunakan ATR (Average True Range) :
- Misalnya ATR harian EUR/USD = 40 pips
- Kalian bisa set trailing stop sekitar 1,5 × ATR = 60 pips
- Untuk saham, jika ATR harian 3% dari harga, trailing stop bisa di kisaran 1–2 × ATR tergantung toleransi risiko
Dengan cara ini, trailing stop tidak hanya berdasar angka “patokan” seperti 5%, tetapi benar-benar disesuaikan dengan dinamika market yang kalian hadapi.
Cara Menentukan Trailing Stop yang Tidak Terlalu Sempit atau Terlalu Longgar
Kesalahan umum dalam penggunaan trailing stop adalah :
- Terlalu sempit
- Stop mudah tersentuh oleh “noise” pasar
- Posisi sering tertutup sebelum tren benar-benar berkembang
- Contoh: trailing stop 10 pips di market yang ATR harian 60 pips
- Terlalu longgar
- Fungsi proteksi melemah
- Profit yang sudah terbentuk bisa tergerus terlalu banyak sebelum stop tersentuh
- Contoh: target realistis 3–4% tetapi trailing stop 15–20%
Prinsip Praktis :
- Ukur volatilitas (ATR, rata-rata range harian, atau range candle)
- Tentukan faktor yang sesuai, misalnya 1–2 × ATR
- Selalu kaitkan dengan risk per trade (misalnya 1–2% dari total modal)
- Pastikan kombinasi antara jarak stop dan ukuran posisi tetap sesuai manajemen risiko kalian
Contoh Penerapan Stop Loss dan Trailing Stop
Bayangkan kalian membeli saham Microsoft (MSFT) di harga $330 untuk tujuan jangka menengah.
Skenario 1 – Menggunakan Stop Loss
- Entry : $330
- Stop loss : $315
- Jika harga turun ke $315, posisi tertutup dengan kerugian sekitar 4,5%
Di sini kalian mendapatkan kepastian batas rugi yang jelas.
Skenario 2 – Menggunakan Trailing Stop 5%
- Entry : $330
- Harga naik ke $350, trailing stop naik ke sekitar $332,5
- Harga lanjut naik ke $370, trailing stop naik ke sekitar $351,5
- Ketika harga berbalik turun dan menyentuh $351,5, posisi tertutup secara otomatis dengan profit yang sudah terkunci
Perbandingan ini menunjukkan bahwa stop loss lebih fokus pada proteksi awal, sementara trailing stop membantu mengoptimalkan profit ketika tren berjalan sesuai analisis kalian.
Tips Praktis Menggunakan Trailing Stop vs Stop Loss
Agar penggunaan Trailing Stop vs Stop Loss lebih efektif, perhatikan beberapa poin berikut :
- Selalu mulai dari risiko per trade
- Tentukan dulu berapa persen modal yang siap kalian risikokan per transaksi (misalnya 1–2%)
- Baru setelah itu tentukan jarak stop dan ukuran lot/lembar saham
- Jangan memindahkan stop loss karena panik atau berharap
- Memperlebar stop loss hanya karena “tidak rela cut loss” biasanya berakhir memperbesar kerugian
- Stop hanya boleh diubah berdasarkan alasan teknikal dan data, bukan emosi
- Gunakan trailing stop setelah posisi masuk area profit yang wajar
- Banyak trader menunggu harga bergerak cukup jauh dari entry (misalnya 1R–2R) sebelum mulai mengaktifkan trailing stop
- Hal ini memberi ruang bagi setup untuk berkembang sebelum kalian “mengunci” profit
- Uji dulu di akun demo atau posisi kecil
- Lakukan backtest atau forward test minimal 50–100 trade dengan setting stop dan trailing yang sama
- Catat hasilnya: win rate, average win/loss, dan max drawdown
- Catat di jurnal trading
- Tulis alasan penempatan stop, kondisi market (tren/sideways), hasil akhir, dan evaluasi
- Dari data ini kalian bisa menemukan pola :
- Apakah trailing stop terlalu sempit saat news?
- Apakah stop statis terlalu sering kena sebelum tren berjalan?
FAQ Seputar Trailing Stop vs Stop Loss
1. Apakah trailing stop selalu lebih baik daripada stop loss?
Tidak selalu.
- Stop loss statis lebih cocok saat market sideways atau ketika kalian ingin batas risiko yang fix.
- Trailing stop lebih efektif ketika market sedang tren kuat dan kalian ingin mengamankan profit sambil tetap memberi ruang pada harga untuk bergerak.
Trader berpengalaman biasanya menggabungkan keduanya, bukan memilih salah satu.
2. Berapa jarak trailing stop yang ideal?
Tidak ada angka baku yang cocok untuk semua instrumen. Secara umum :
- Aset sangat volatil : jarak trailing stop lebih lebar (misalnya 7–10% di saham, atau beberapa puluh hingga ratusan pips di forex)
- Aset lebih stabil : jarak trailing stop bisa lebih ketat (sekitar 3–5% di saham, atau puluhan pips di forex)
Cara terbaik adalah menyesuaikan dengan ATR atau indikator volatilitas lain.
3. Apakah stop loss dan trailing stop wajib digunakan?
Jika kalian ingin trading secara profesional dan terukur, iya, keduanya sangat dianjurkan. Tanpa stop, semua posisi bergantung pada harapan dan emosi, bukan pada sistem manajemen risiko yang jelas.
Dengan memahami dan menerapkan Trailing Stop vs Stop Loss secara benar, kalian tidak hanya melindungi modal, tetapi juga memberi kesempatan pada profit untuk berkembang maksimal. Mulailah dari pengaturan risiko yang disiplin, uji setting di akun demo, lalu terapkan secara konsisten di akun real.


